Cerita Bisu Tsunami Aceh

Oke, kali ini tim dari webtutorku akan memberikan kalian sedikit tentang CERITA BISU TSUNAMI ACEH .Buat kalian yang ga sabar, cerita ini dikisahkan dari orang yang secara langsung mengalami kejadian ini. Jadi, cerita ini bukan hoax.
Simak Ceritanya

12 TAHUN TSUNAMI ACEH

By Teuku Arief Maulana.


Sabtu 25 Desember 2004
Pukul 15.00 WIB
Betapa senangnya aku, sabtu sore itu diberi kado spesial dari Waled (ayah). playstation 2, ya PS 2 merupakan game yang masih langka dan paling diiming-imingkan anak- anak pada saat itu. Betapa bahagianya dihari itu, bermain PS dari sore hingga malam, sampai-sampai lupa makan, hehe. Tiba saatnya aku untuk tidur beristirahat, rasanya tidak sabar menanti hari esok untuk ku genggam stik ps itu kembali.

Minggu 26 Desember 2004
Pukul 06.46 WIB
Pagi minggu selalu terbagun cepat, maklum di Meulaboh tempat tinggalku jika minggu pagi mulai dari anak-anak hingga orang dewasa turun ke jalan untuk berolahraga berjalan santai hingga ke bibir pantai, namun pagi minggu ku berubah. Pagi minggu ku yang tadinya joging di jalan, hari ini duduk manis di depan tv untuk ber main PS2. Aku tidak sendiri, aku di temani adik perempuanku dan teman-teman sekitar rumah ku. Saat itu aku masih SD kelas 6 dan adik ku MIN kelas 3.

Pukul 07.50 WIB
Keseruan bermain PS itu pun terhenti , aku, adikku dan teman-temanku yang berada dilantai 2 rumah merasakan getaran kuat yang menggoyang rumah seakan kita berada di ujung pohon yang tertiup angin. aku pernah merasakan getaran seperti ini, namun tak sekuat ini. Terdengar teriakan mamak ku diluar sana yang memanggil kami agar turun dari lantai 2.

Mamak : nak turun naaak, ada gempa.

Sontak kami pun panik, namun kaki ragu untuk melanggah karena semakin besar goncangan yang kami rasakan. Dengan bermodal nekat, kami pun turun ter batah-batah menuruni 1 demi 1 anak tangga dan berlari ke halaman rumah. Goyangan itu belumlah usai, goncangan itu seakan semakin kuat sehingga kami mencari pegangan yang bisa menompang tubuh agar tak terjatuh. Sontak semua menyebut nama Allah, memohon ampun atas kesalahan, sungguh kami berserah kepada mu ya Allah. Goncangan pun perlahan kian kecil dan berangsur berhenti. Entah berapa lama kami di goncang gempa itu, mungkin 15 menit lamanya kami digoncang. Beberapa menit kemudian ada tetangga yang pulang dari kota mengatakan, “dikota banyak gedung roboh”.
Dengan menyesalnya aku merayu waled.

Aku : waled, jalan-jalan ke kota yok, lihat gedung roboh.
Sejenak waled terdiam, dan berkata,
Waled : siap-siap terus kita ke kota
Sontak mamak ku melarang,
Mamak : jangan waled, kondisinya belum aman
Waled : gak apa-apa sudah aman

Mendengar waled mengatakan iya, aku langsung berlari ke dalam rumah untuk bersiap-siap jalan-jalan ke kota Meulaboh. Selesai persiapan ku, kulihat adikku yang sedang sibuk merapikan mainan bongkar pasangnya yang berhamburan terjatuh akibat gempa. Adikku bertanya,

Adik : mau kemana abang?
Aku : mau jalan-jalan ke kota, ikut?
Adik : e, ikutlah
Aku : kalau ikut siap-siap terus 

Sontak dia berlari menuju kamar untuk siap-siap, beberapa saat kemudian dia keluar dengan pakaian bagus, memakai accesories lengkap seperti jam tangan, bando serta lengkap dengan perhiasan  yang melekat ditubuhnya. Kami siap untuk berangkat bertiga, aku, adikku dan waled menggunakan motor. Lalu mamaku berpesan.

Mamak : itu kalau ada apa-apa nanti pulang terus.

Kami pun berangkat menuju kota, betul adanya seperti yang dikatakan tetangga tadi, puluhan  gedung yang ada dikota Meulaboh rubuh rata dengan tanah akibat goncangan gempa pagi itu. Kami terus melanjutkan perjalanan, terus jalan, dan tak terasa sampai di bibir pantai pelabuhan penyebrangan Meulaboh. Sontak kami melihat banyaknya orang yang melihat ke pantai, kami pun penasaran dan menanyakan,

Waled : ada apa pak?
Warga : itu air laut surut.

Kami melihat sebagian orang turun untuk mengambil ikan yang terdampar akibat surutnya air laut. Tak lama berselang saya melihat hal aneh di garis pantai, seperti ada muncratan air hitam diatas garis pantai yang biru, namun bukan hanya aku yang melihat itu, beberapa ibu-ibu yang bermukim disana juga melihat.

Warga : itu air pasang.

Aku melihat ibu-ibu setempat memanggil anak-anaknya untuk masuk ke dalam rumah,mungkin untuk mengindari air pasang itu. aku takut, lalu mengajak waled untuk pulang.

Aku : waled ayok pulang, takut.
Waled : iya ayok pulang.

Laju motor mengarah ke rumah, namun kami bukanlah pulang dengan penuh ketakutan, tetapi pulang untuk menghindari air pasang, entah apa yang ada difikiran waled, saat itu laju motor begitu santainya. saat perjalanan pulang lalu keadaan dijalanan yang tadinya sepi kini macet, penuh teriakan kepanikan dan terdengar teriakan “ air laut naiiik” sontak teriakan itu membuat semua orang panik, membuat semua orang berpacu lari menjauh dari pantai sehingga jalanan penuh sesak dengan kerumunan kendaraan. Macet total terjadi, itu baru seperempat dari jarak tempuh ke rumah ku. Entah apa yang mendorong ku sehingga aku mengatakan,

Aku : waled, belok kanan ke arah blang pulo saja kita pulang.

Waled pun memutar kiri arah pulang, awalnya lancar, namun aku salah menunjuk arah, aku lupa arah jalan itu menuju ke Pasar tersibuk di Meulaboh, dan langkah kami terhenti sejenak karena macet yang parah. Alhamdulillah kemudahan di berikan oleh Allah untuk kami, kami berhasil melewati kemacetan dan ambil jalan kanan ke arah blang pulo, jalan itu sepi lurus hingga jumpa pertigaan blang pulo dan kami terhenti, kembali macet total. Kali ini sangat parah. Aku semakin takut akan teriakan orang-orang yang menyelamatkan diri. Dan entah kenapa aku melihat kearah kanan, ada yang aneh dibelakang sana, seperti suara seng yang di hempas, suara gemuruh yang bercampur teriakan manusia. Betapa terkejutnya aku, satu persatu rumah semi permanen terangkat dengan air. 
Aku mulai panik berat dan mengambil kesimpulan,

Aku : waled ayok lari jalan kaki

Namun sayang, waledku tak dapat mendengar teriakanku yang kalah besarnya dengan gemuruh air yang sedang ngamuk itu. Aku loncat dari motor sambil ku teriaki waled agar lari bersama ku, namun bukannya mendengar teriakan ku, waled malah kehilangan aku di bangku belakang motor, sontak waled memanggilku,

Waled : abang, dimana abang.
Aku : waled ini abang, lari waled.

Dari kejauhan aku teriakkan namun waled tak melihat kearah aku. Aku melihat adik hanya diam, tetapi aku tak dapat melihat wajahnya tertutup kerumunan orang berlarian. Betapa menyesalnya aku memilih lari sendirian meninggalkan waled dan adikku. Aku berlari tak tau arah, menjauh dari suara gemuruh air, memasuki teras rumah warga hingga tembus ke halaman belakang dan ku lakukan ke 2 rumah berikutnya, namun dirumah yang terakhir hantaman keras menghantam tubuhku hingga aku terhempas layaknya cabai yang dimasukkan ke blender, dalam hempasan aku tersadar air laut telah menenggelamkan ku, aku terus terhempas lemas dan akhirnya aku menyerah, pasrah dengan keadaan dan aku berfikir “mungkin ini ajalku” aku tak pernah bisa berenang. Nafas sudah tak sanggup lagi ku tahan, aku pasrah dan ku hirup minum  air laut itu hingga 3-4 kali, “inilah ajalku” terbesit ingatanku untuk waled, adikku dan keluarga ku yang dirumah, aku pasrah.

Entah apa yang membuatku kuat sehingga keajaiban datang diberi oleh Allah, dalam hantaman air itu aku berhasil hanjurkan pelafon rumah sehingga kepala bisa keluar dari amukan air dan betapa leganya kembali bisa bernafas. Alhamdulillah ku ucapkan sebagai rasa syukur aku masih diberi kesempatan bernafas. Sertelah pernafasan berangsur normal, air itu terus kencang menghantam seisi rumah itu, aku melihat sekeliling saat air berangsur bersahabat, ternyata bukan aku seorang yang ada didalam rumah itu, ada 2 orang lagi di sana, tetapi hanya aku di dalam sana yang masih diberi kesempatan hidup oleh Allah.

Aku masih di dalam rumah itu, aku tidak tahu kejadian diluar sana seperti apa, hingga aku memutuskan keluar dari rumah itu dengan membobol atap rumah. Betapa terkejutnya aku melihat, yang tadinya ada ratusan rumah disekitar ku, kini tinggal 3 rumah saja yang terlihat. Jeritan manusia belumlah berhenti, gemuruh air masih menggema, sahutsahutan azan terdengar dimana-mana. Aku bingung, aku bingung ada dimana, aku tidak tanda dimana terakhir kaki ku berpijak. Lalu ada seorang yang terbawa arus balik diatas sebuah kasur sambil meminta tolong kepadaku,

Warga : dek tolong dek, kaki abang patah, abang terbawa air.
Aku : maaf bang, aku gak mampu untuk menolong abang, aku gak bisa berenang.

Pukul 11.00 WIB
Namun alhamdulillah abang itu tertolong dengan kekuatannya sendiri dengan meraih rumah termpat ku berpijak. Kini aku berdua dengan abang itu, diatas atap rumah warga. Aku belum tenang, aku masih memikirkan adik dan waled. Selang beberapa menit aku mendengar suara yang tak asing ditelingaku “pak apa itu ada jalan” dengar suara itu aku yakin, Iya itu suara waled, alhamdulillah senang rasanya bisa mendengar suara itu. Sontak aku langsung memanggi walau aku tak tahu dari mana sumber suara itu.

Aku : waleeed?

Alhamdulillah waled merespon panggilanku, penglihatan ku samar-samar dan muncul suara dari atas batang kelapa.

Waled : abang, tetap disitu abang, waled kesana, jangan turun.

Pelan tapi pasti waled turun dari pohon kelapa, tempat waled dihempas air itu. Selepas turun waled memawa berapa orang untuk membantu kami turun, alhamdulillah aku dan abang tadi berhasil turun dari atap rumah. Aku dan waled pun berjalan ke arah rumah,  aku bertanya  ke pada waled,

Aku : waled, mana adek?
Waled : adek terlepas dari tangan waled waktu dalam air tadi, terakhir waled pegang adek didaerah itu.

Waled menunjuk daerah yang masih tergenang, rupanya waled sempat beberapa saat mencari adik sebelum mejemput ku pulang, namun belum ketemu.
Kami pulang, sesampai dirumah, mamak ku langsung menghampiri, mengucapkan syukur alhamdulillah kami kembali, namun,

Mamak : maana adik? Hah? Mana adik?

Aku tak sanggup menahan kesedihan melihat mamak seperti itu, aku menangis. Waled terdiam sejenak, lalu menjawab dengan terbata-bata,

Waled : adik terlepas dari tangan

Mamaku semakin histeris memikirkan keselamatan adikku, terus menangis sampai air laut naik yang ke dua kalinya, semakin  keras tangisan mamak. Keluarga ku yang lain mencoba menenangkan mamak sehingga pencarian adikku dilakukan seusai air laut surut kembali.

Minggu 26 Desember 2004
Pukul 14.00 WIB
Air laut sudah berangsur surut, pencarian adik dilakukan dilokasi yang waled tunjukkan tadi, pencarian terus dilakukan hingga sore hari namun belum membuahkan hasil, berhubung hari semakin gelap, pencarian dihentikan sementara.

Senin 27 Desember 2004
Pukul 07.00 WIB
Rombongan kembali ke lokasi untuk mencari adik dilokasi yang sama, sesampai disana rombongan bukanlah satu-satunya rombongan yang mencari keluarga yang hilang, ada ratusan orang yang mencari keluarganya yang bernasip sama dengan kami, di lokasi saling bertukar informasi berdasarkan ciri-ciri orang yang sedang dicari. Alhamdulillah, pagi ini bertemu dengan rombongan yang mengetahui persis posisi adik berdasarkan ciri-ciri yang disampaikan. Alhamdulillah adik ditemukan, 100 meter dari jarak terakhir yang ditunjuk waled dulu.posisi adik diantara gunungan reruntuhan rumah, tidur diatas papan dan berselimut,  Adik ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, pakaian masih utuh, jam tangan masih berdetak, serta perhiasan masih melekat lengap ditubuhnya, alhamdulillah tak ada bekas luka apapun ditubuh adik, masih cantik seperti terakhir aku melihatnya saat awal berangkat dari rumah dipagi itu. Langsung saja adik dibawa pulang ke rumah, sesampai dirumah beberapa saat,  dilanjutkan perjalanan ke rumah nenek di lapang, disana adik disemayamkan, dan disana adik dikebumikan, bersama puluhan syuhada lainya. Selamat jalan adikku, semoga engkau bahagia disurga sana. 

Terima Kasih untuk kalian yang udah baca, mungkin ceritanya sedikit sedih atau gimana :( Jangan lupa tinggalin jejak dan jangan lupa mampir lagi. .

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerita Bisu Tsunami Aceh"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel